Uang kertas selalu menemui masalah alias serba salah, ketika ditakar nilainya dengan barang dan jasa

Uang kertas selalu menemui masalah alias serba salah, ketika ditakar nilainya dengan barang dan jasa. Diperlukan lebih banyak uang untuk membeli benda yang sama, dan di lembaran uang tersebut ditulislah angka-angka yang semakin besar. Ya, inflasi.

Emas dan perak, nilai keduanya bisa saja tidak naik tinggi-tinggi amat, namun tetap berharga untuk ditukar dengan barang dan jasa. Bahkan, nilai keduanya secara konsisten dan persisten naik melebihi inflasi, sehingga siapa saja yang menyimpan asetnya dalam bentuk emas dan perak tidak pernah merasa rugi.

Untuk menjabarkan fenomena ini, Al-Ghazali dengan sederhana menyebut emas dan perak, “Bukanlah harga, melainkan cermin yang menggambarkan harga-harga.” Ya, cermin yang menggambarkan harga-harga. Hal ini perlu dipahami oleh semua orang, terutama karyawan alias orang gajian.

Untuk menangkal inflasi, saya sangat menyarankan teman-teman untuk berinvestasi. Dengan kata lain, gaji tanpa investasi, pastilah tergerus inflasi. Berinvestasi di mana? Emas, boleh. Properti, boleh. Reksadana syariah, boleh. Kawin sama orang kaya juga boleh. Hehehe. Tapi, apa iya orang kayanya mau sama ente? Hehehe.

Kalau uangnya mepet, gimana mau investasi? Justru kalau mepet, harus memaksakan diri untuk investasi. Supaya ke depan, nggak mepet-mepet lagi. Orang kaya, tanpa investasi sekalipun, tetap kaya. Kita yang belum kaya ini yang lebih memerlukan investasi. Mulai saja kecil-kecilan. Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Whatsapp