Posted on / Ippho Santosa

New Normal Vs New Tactics

Sebanyak 1.785 koperasi dan 163.713 UMKM terdampak karena pandemi ini, ungkap Menteri Teten Masduki. Ini nggak main-main. Menurut data statistik, penyerapan tenaga kerja di UMKM adalah 97%, sementara share UMKM terhadap PDB nasional sebesar 60%.

Tapi apakah semuanya turun? Nggak juga.

Penjualan barang elektronik malah meningkat. Yang lain? Produk kesehatan meningkat 90%, produk hobi 70%, makanan pokok 350% dan herbal 200%. “Pergerakan ekonomi dari rumah bisa menjadi trend baru untuk beberapa waktu ke depan,” ucap Menteri Teten Masduki.

Ya, sudah saatnya kita beradaptasi. Virus boleh bermutasi, tapi manusia bisa beradaptasi.

Ketika istilah New Normal muncul di mana-mana, saya pribadi lebih sreg menggaungkan istilah-istilah berikut ini:
– New Tactics
– New Business
– New Customer

Apakah kita perlu memakai taktik dan strategi baru tanpa mengubah bisnis asal? Misalnya, tetap di kuliner tapi hanya delivery dan take away.

Apakah kita perlu mencoba bisnis baru dan produk baru, karena bisnis asal benar-benar terdampak? Misalnya, pariwisata.

Apakah kita perlu mencari prospek baru dan konsumen baru, karena segmen asal benar-benar terdampak? Misalnya, hotel menerima jasa karantina.

Think.

Terakhir, untuk pemula, saya selalu menyarankan, “Jangan dulu produksi. Itu menyita waktu dan biaya.” Pilih produk yang kecil (hemat space), ringan (hemat ongkir), dan tahan lama, sehingga bisa di-delivery se-Indonesia. Terus? Sebisanya ada mentor teruji yang mendampingi untuk mengurangi risiko kegagalan.

Insya Allah kita akan melalui masa-masa sulit ini bersama-sama. Modal dasarnya adalah mau beradaptasi. Sekali lagi, beradaptasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Whatsapp