Posted on / Ippho Santosa

CORONA, MEREKA TETAP KELUAR RUMAH

Di tengah pandemi Corona, saya prihatin sama mereka yang terpaksa bekerja dan hilir-mudik di luar sana, karena tuntutan nafkah dan rupiah.

“Nggak keluar, yah nggak makan,” jawab mereka dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Jujur, saya salut sama mereka. Yang pasti, mereka itu bertanggung-jawab atas keluarganya dan benar-benar berani.

Ada pandemi, mereka tak peduli. Mereka tetap pergi, mencari nafkah sepanjang hari. Ya, mereka itu berani.

Kemudian saya sempat berpikir, kalau terhadap pandemi saja mereka berani, mestinya buka usaha yah lebih berani.

Ketika pandemi, risikonya nyawa alias bisa mati. Ketika buka usaha, yah risikonya cuma rugi. Anehnya, nggak semua orang berani. Saya melihat suatu kejanggalan di sini.

Sebagian menganggap modal sebagai kendala utama, saat merintis usaha. Terus, apa jawaban saya? Mungkin ya, mungkin tidak. Toh kalau uang Rp 1 juta, hampir semua orang punya dan itu sudah cukup untuk merintis usaha.

Soal produk, gimana? Namanya produk, tidak harus produksi sendiri. Kita bisa ngandalin pihak lain (vendor). Kita cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. Simple.

Ada yang bilang, “Ah, itu bukan pengusaha namanya. Itu sih calo.”

Nggak juga. Terbukti showroom mobil, dealer motor, dan konter Apple melakukannya. Apa itu? Mereka cukup menjualkan saja dan ambil selisihnya. No production.

Lantas, gimana dengan kita? Yah coba saja jadi agent atau reseller untuk produk tertentu. Nggak rumit tho? Lebih baik lagi kalau pilih produk yang tinggi repeat order-nya dan tetap dicari walaupun lagi pandemi.

Buka deh pikiran kita. Sudah saatnya kita menempuh jalan berbeda dalam mencari nafkah dan rupiah. Nggak harus ngantor. Nggak harus hilir-mudik di tengah pandemi. Masih ada kok cara lain.

Think. Try.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Whatsapp